22 Februari 2009

Membuat Web Server dengan Mudah



Mungkin bagi kita yang newbie tentang linux membuat atau membangung server linux sangat memusingkan alias mumet....
Untuk menghilangkan pusing kepala silahkan anda coba linux Complete Web Server yang bisa anda download di http://www.completewebserver.nl/
Setelah anda download segera instal di komputer anda, niscaya dengan sekejap web server anda akan segera selesai dan siap digunakan.
Untuk informasi kebutuhan hardware yang dibutuhkan adalah sbb:

- Procesor min PIII
- HDD Min 9 GB
- RAM Min 256 MB
- CD ROM
- LAN Card
- 1 Keping CD Instalasi



Sedangkan spesifikasi software yang digunakan adalah sbb:
# OS: Debian Sarge (3.1)
# Webserver: Apache 1.3.33
# Mailserver: Sendmail 8.13.4
# POP3 / IMAP server: Dovecot 1.0.rc15
# Mailinglist Management: Mailman 2.1.5
# FTP server: Proftpd 1.2.10
# DB: MySQL 4.1.15
# Scripting: PHP 4.4.7 and 5.2.4, Perl 5.8.4, Python 2.3.5
# Control-panel: Web://CP 0.5.1 custom
# Tools: AWStats, phpMyAdmin, SquirrelMail and suPHP

Silahkan Mencoba smoga tidak pusing lagi..... :)

Hotspot Server + Easy Hotspot

Hotspot Server

Yg harus disiapkan :
->1 PC, minimal Pentium 3,
->RAM 256.
->1 buah CD easy hotspot, bisa di download,
->2 NIC
->AP

Langsung aja lu Install
Hotspot Server dengan billing system,
berhubung Live CD, jadi langsung aja klik icon install pada bagian desktop.
buat nama
user = aziz
password = aziz

untuk manualnya silahkan klik di sini atau di situs asalnya:
http://easyhotspot.sourceforge.net/doc.php

#nano /var/www/system/application/config/easyhotspot.php
Ganti identitasnya sesuai dengan posisi anda

#nano /var/www/system/application/config/config.php
Temukan Baris $config['base_url']
Ganti dengan $config['202.134.56.254']
IP tersebut adalah IP Interface Local

#nano /etc/freeradius/radiusd.conf
Temukan Baris ‘#noresetcounter’ and ‘#octetslimit’
Hilangkan tanda pagarnya menjadi seperti ini.
noresetcounter
octetslimit

#ifconfig
Maka yg akan mucul adalah interface eth3 dan eth4 jika anda memasang 2 NIC
ganti eth3 tersebut menjadi eth0
ganti eth4 tersebut menjadi eth1
#nano /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules

SUBSYSTEM=="net", DRIVERS=="?*",
ATTRS{address}=="00:16:d3:5e:8f:f3", NAME="eth3"
# PCI device 0x14e4:0x4311 (bcm43xx)
SUBSYSTEM=="net", DRIVERS=="?*",
ATTRS{address}=="00:19:7e:a5:45:84", NAME="eth4"

to

SUBSYSTEM=="net", DRIVERS=="?*",
ATTRS{address}=="00:16:d3:5e:8f:f3", NAME="eth0"
# PCI device 0x14e4:0x4311 (bcm43xx)
SUBSYSTEM=="net", DRIVERS=="?*",
ATTRS{address}=="00:19:7e:a5:45:84", NAME="eth1"

Jangan lupa untuk mengganti semua password, seperti password mysql, phpmyadmin,..

Untuk membuat user managementnya.
buka browser dan ketikan ip Local
Untuk user defaultnya
username = vcool
password = vcool123

username = admin
password = admin123

OKe deh, sekarang tinggal nyetting AP nya.
Tp lk mw jajal per to per aja dulu pake cable UTP.
Oke BOS, Good Luck
========================================================================
EasyHotspot Documentation
author : Rafeequl(rafeequl@gmail.com) ascii (ascii2412@yahoo.com)

Setting Mail Server Debian

Howto: Installasi mailserver dengan postfix and courier menggunakan authentikasi mysql

Tutorial ini menjelaskan Step by Step tentang cara membuat mailserver dg virtual domain (domain email tidak harus selalu sama dg domain komputer yang sesungguhnya) denganberbasiskan postfix dan courier dg memanfaatkan mysql sebagai penyimpan data username & password bagi tiap2 user. Berikut ini yang harus anda lakukan.

( INTERNET )—————-| DMZ |—————-( Local Area Networks )

Step 1: Install paket-paket yang diperlukan


Paket yang diperlukan dalam tutorial ini antara lain :
Untuk Mengirim email (SMTP) : postfix (Pilih: “Local only”), postfix-tls, postfix-mysql, postfix-doc
Untuk Database user : mysql-client-5.0, mysql-server-5.0
Untuk menerima email (POP3 & IMAP) : courier-base (Pilih: “No”), courier-authdaemon, courier-authlib-mysql, courier-pop, courier-pop-ssl, courier-imap, courier-imap-ssl
Untuk Keamanan Pengiriman dan Penerimaan email : libsasl2, libsasl2-modules, libsasl2-modules-sql, openssl
Untuk Mencegah Virus dan Spam : amavisd-new, spamassassin, clamav, clamav-daemon, zoo, unzip, lha
Untuk tampilan WebMail : squirrelmail, phpmyadmin
Untuk testing tools : telnet
root@bajoel:~# apt-get install postfix postfix-tls postfix-mysql postfix-doc mysql-client-5.0 mysql-server-5.0 courier-authdaemon courier-authlib-mysql courier-pop courier-pop-ssl courier-imap courier-imap-ssl libsasl2 libsasl2-modules libsasl2-modules-sql openssl amavisd-new spamassassin clamav clamav-daemon zoo unzip lha squirrelmail phpmyadmin telnet

Step 2: Membuat user, database, dan tabel yang diperlukan pada mysql
Tambahkan database dan tabel-tabel baru pada mysql anda sebagai berikut
root@bajoel:~# mysql -u root -p
password:
mysql>CREATE DATABASE mail;
mysql>CREATE USER ‘mailadmin’@'localhost’ identified by ‘passwordanda’;
mysql>USE mail;
mysql>CREATE TABLE domains (
domain varchar(50) NOT NULL,
PRIMARY KEY (domain) )
TYPE=MyISAM;
mysql>CREATE TABLE forwardings (
source varchar(80) NOT NULL,
destination TEXT NOT NULL,
PRIMARY KEY (source) )
TYPE=MyISAM;
mysql>CREATE TABLE users (
email varchar(80) NOT NULL,
password varchar(20) NOT NULL,
PRIMARY KEY (email) )
TYPE=MyISAM;
mysql>GRANT all ON mail.* TO ‘mailadmin’@'localhost’;


Step 3: Membuat file2 baru sebagai penunjuk ke database mysql
Buat file baru dg nama mysql-virtual_domains.cf :
root@bajoel:~# touch /etc/postfix/mysql-virtual_domains.cf
isi file mysql-virtual_domains.cf dg baris-baris dibawah ini :
root@bajoel:~# mcedit /etc/postfix/mysql-virtual_domains.cf
user = mailadmin
password = passwordanda
dbname = mail
table = domains
select_field = ‘virtual’
where_field = domain
hosts = 127.0.0.1
Buat file baru dg nama mysql-virtual_forwardings.cf yg berisi :
root@bajoel:~# touch /etc/postfix/mysql-virtual_forwardings.cf
isi file mysql-virtual_forwardings.cf dg baris-baris dibawah ini :
root@bajoel:~# mcedit /etc/postfix/mysql-virtual_forwardings.cf
user = mailadmin
password = passwordanda
dbname = mail
table = forwardings
select_field = destination
where_field = source
hosts = 127.0.0.1
Buat file baru dg nama user mysql-virtual_mailboxes.cf yg berisi :
root@bajoel:~# touch /etc/postfix/mysql-virtual_mailboxes.cf
isi file mysql-virtual_mailboxes.cf dg baris-baris dibawah ini :
root@bajoel:~# mcedit /etc/postfix/mysql-virtual_mailboxes.cf
user = mailadmin
password = passwordanda
dbname = mail
table = users
select_field = CONCAT(SUBSTRING_INDEX(email,’@',-1),’/',SUBSTRING_INDEX(email,’@',1),’/')
where_field = email
hosts = 127.0.0.1
Buat file baru mysql-virtual_email2email.cf yang berisi :
root@bajoel:~# touch /etc/postfix/mysql-virtual_email2email.cf
isi file mysql-virtual_email2email.cf dg baris-baris dibawah ini :
root@bajoel:~# mcedit /etc/postfix/mysql-virtual_email2email.cf
user = mailadmin
password = passwordanda
dbname = mail
table = users
select_field = email
where_field = email
hosts = 127.0.0.1
[Penting] Demi keamanan, pastikan hanya user root & postfix saja yang bisa mengakses file-file yang telah anda buat.
root@bajoel:~# chown root:postfix /etc/postfix/mysql-virtual_*.cf
root@bajoel:~# chmod u=rw,g=r,o= /etc/postfix/mysql-virtual_*.cf

Step 4: Membuat user baru pada system kita sebagai administrator-email
User ini bertugas untuk membuat maildir baru setiap ada user baru yang mendaftar pada mailserver anda
root@bajoel:~# groupadd -g 5000 mail-admin
root@bajoel:~# useradd -g mail-admin -u 5000 mail-admin -d /home/mail -m
root@bajoel:~# mkdir /home/mail
root@bajoel:~# chown -R mail-admin:mail-admin /home/mail
root@bajoel:~# chmod -R u=rwx,g=,o= /home/mail

Step 5: Mengkonfigurasi postfix sbg server SMTP
File main.cf ini adalah file konfigurasi utama dari postfix
root@bajoel:~# mcedit /etc/postfix/main.cf
Editlah file tsb, sehingga menjadi seperti dibawah ini :
inet_interfaces = all
myhostname = mail.domain-anda.org (fqdn)
mydestination = (jangan menuliskan virtual domain disini -> lebih baik dikosongi saja)
mynetworks = lqman.org (nama domain anda)
virtual_alias_domains =
virtual_alias_maps = mysql:/etc/postfix/mysql-virtual_forwardings.cf mysql:/etc/postfix/mysql-virtual_email2email.cf
virtual_mailbox_domains = mysql:/etc/postfix/mysql-virtual_domains.cf
virtual_mailbox_maps = mysql:/etc/postfix/mysql-virtual_mailboxes.cf
virtual_mailbox_base = /home/mail
virtual_uid_maps = static:5000
virtual_gid_maps = static:5000
smtpd_sasl_auth_enable = yes
broken_sasl_auth_clients = yes
smtpd_recipient_restrictions = permit_mynetworks, permit_sasl_authenticated, reject_unauth_destination
smtpd_use_tls = yes
smtpd_tls_cert_file = /etc/postfix/smtpd.cert
smtpd_tls_key_file = /etc/postfix/smtpd.key

Testing…
Restart service postfix, dan cobalah untuk mengakses port 25 dengan telnet
root@bajoel:~# /etc/init.d/postfix restart
root@bajoel:~# postfix check
Jika tidak muncul suatu pesan kesalahan, berarti anda sukses…….
root@bajoel:~# telnet localhost 25
Trying 127.0.0.1…
Connected to localhost.localdomain.
Escape character is ‘^]’.
220 mail.lqman.org ESMTP Postfix (Debian/GNU)

Jika muncul sebagaimana tulisan diatas, berarti postfix anda sudah berjalan lancar...
Tekanlah tombol Ctrl+] lalu ketik quit untuk keluar dari sesi telnet,
Ambilah napas dalam-dalam, dan lanjutkan perjuangan

Step 6: Mengaktifkan fasilitas authentikasi pada postfix (Auth-SMTP)
Tell Postfix to use SASL/MySQL, dg cara buat file baru dg nama /etc/postfix/sasl/smtpd.conf :
root@bajoel:~# touch /etc/postfix/sasl/smtpd.conf
Isi file /etc/postfix/sasl/smtpd.conf dg baris-baris dibawah ini :
root@bajoel:~# mcedit /etc/postfix/sasl/smtpd.conf
pwcheck_method: auxprop
auxprop_plugin: sql
mech_list: plain login cram-md5 digest-md5
sql_engine: mysql
sql_hostnames: 127.0.0.1
sql_user: mailadmin
sql_passwd: passwordanda
sql_database: mail
sql_select: select password from users where email=’%u@%r’
log_level: 7
[Penting] Demi keamanan, pastikan hanya user root & postfix saja yang bisa mengakses file-file yang telah anda buat.
root@bajoel:~# chown root:postfix /etc/postfix/sasl/smtpd.conf
root@bajoel:~# chmod u=rw,g=r,o= /etc/postfix/sasl/smtpd.conf

Mengaktifkan TLS untuk meng-encrypt SMTP traffik, dg cara membuat sertifikat (certificate)
root@bajoel:~# openssl req -new -outform PEM -out /etc/postfix/smtpd.cert -newkey rsa:2048 -nodes -keyout /etc/postfix/smtpd.key -keyform PEM -days 365 -x509
[Penting] Demi keamanan, pastikan hanya user root & postfix saja yang bisa mengakses file-file yang telah anda buat.
root@bajoel:~# chown root:postfix /etc/postfix/smtpd.*
root@bajoel:~# chmod u=rw,g=r,o= /etc/postfix/smtpd.*


Step 7: Mengkonfigurasi courier sebagai server POP3 / IMAP
Edit file /etc/courier/authdaemonrc :
root@bajoel:~# mcedit /etc/courier/authdaemonrc
Ubah parameter authmodulelist menjadi :
authmodulelist=”authmysql”
Lalu edit file /etc/courier/authmysqlrc :
root@bajoel:~# mcedit /etc/courier/authmysqlrc
Ubah beberapa parameter, shg menjadi seperti di bawah ini :
MYSQL_SERVER localhost
MYSQL_USERNAME mailadmin
MYSQL_PASSWORD passwordanda
MYSQL_PORT 0
MYSQL_DATABASE mail
MYSQL_USER_TABLE users
#MYSQL_CRYPT_PWFIELD (jadikan baris ini sebagai komentar)
MYSQL_CLEAR_PWFIELD password
MYSQL_UID_FIELD 5000
MYSQL_GID_FIELD 5000
MYSQL_LOGIN_FIELD email
MYSQL_HOME_FIELD “/home/mail”
MYSQL_MAILDIR_FIELD CONCAT(SUBSTRING_INDEX(email,’@',-1),’/',SUBSTRING_INDEX(email,’@',1),’/')
#MYSQL_NAME_FIELD (jadikan baris ini sebagai komentar)
[Penting] Mengedit file authmysqlrc agak sedikit susah, pastikan anda berhati-hati dan tidak membuat kesalahan (jangan memakai tanda SPASI, tetapi gunakan tombol TAB)
Testing…
Restart service courier-authdaemon, dan cobalah untuk mengakses port 110 dengan telnet
root@bajoel:~# /etc/init.d/courier-authdaemon restart
Jika tidak muncul suatu pesan kesalahan, berarti anda sukses...
root@bajoel:~# telnet localhost 110
Trying 127.0.0.1…
Connected to localhost.
Escape character is ‘^]’.
+OK Hello there.

Jika muncul pesan seperti diatas, maka berbahagialah.
Tarik napas dalam-dalam dan ucapkan hamdalah atas keberhasilan anda
[Penting] Anda tidak dapat membuka mailbox / maildir anda sebelum ada email yang terkirim pada mailbox anda. Pesan kesalahan akan dimunculkan. Karena itulah anda harus mengirim welcome email pada setiap user baru.

Step 8: Test hasil konfigurasi anda
Selamat, anda telah menyelesaikan poin konfigurasi. Pada bagian ini anda anda hanya akan men-testing server yang telah anda konfig sebelumnya.
Sekarang kita akan membuat database pada domain yang akan kita coba, domain inilah yang kita jadikan sebagai domain percobaan untuk mengirim dan menerima email.
Buatlah domain baru dg nama lqman.org pada tabel domains, dan buatlah juga alamat email dan password baru pada tabel users.
Untuk lebih jelasnya ikutilah syntax mysql dibawah ini.
root@bajoel:~# mysql -u mailadmin -p mail
password:
mysql>INSERT INTO domains(domain) VALUES (’lqman.org’);
mysql>INSERT INTO users(email,password) VALUES (’admin@lqman.org’,'admin’);
mysql>INSERT INTO users(email,password) VALUES (’user@lqman.org’,'user’);
Sekarang kita sudah punya sebuah virtual domain baru dg nama “lqman.org” dan 2 orang user, yaitu “admin@lqman.org” dan “user@lqman.org” yang masing-masing user ini mempunyai password “admin” dan “user”.
Jika anda tidak mempunyai MX record pada DNS server anda, maka kami menyarankan utk menambahkan MX record spt dibawah ini :
root@bajoel:~# mcedit /etc/bind/db.lqman.org

@ IN MX 5 mail.lqman.org.
mail IN A 10.122.1.22

IP-Address 10.122.1.22 hanya sebagai contoh saja, ubahlah sesuai dg IP-Address yg anda inginkan. Kemudian untuk mencoba pengiriman email dari smtp server anda, lakukan telnet pada localhost 25
root@bajoel:~# telnet localhost 25
Trying 127.0.0.1…
Connected to localhost.localdomain.
Escape character is ‘^]’.
220 mail.lqman.org ESMTP Postfix (Debian/GNU)

Kemudian secara interaktif (pada mode telnet) berikan perintah spt dibawah ini :
Anda : ehlo virtual.test
Server : 250-mailtest
250-PIPELINING
250-SIZE 10240000
250-VRFY
250-ETRN
250-STARTTLS
250-AUTH LOGIN PLAIN DIGEST-MD5 CRAM-MD5
250-AUTH=LOGIN PLAIN DIGEST-MD5 CRAM-MD5
250 8BITMIME
Anda : mail from:admin@lqman.org
Server : 250 Ok
Anda : rcpt to:user@lqman.org
Server : 250 Ok
Anda : data
Server : 354 End data with .
Anda : Subject:Just for test
This is a test email
. (tanda titik)
Server : 250 Ok: queued as ABC1D1C123
Anda : quit
Server : 221 BYE

Jika respon server seperti tulisan diatas, berarti email dari admin@lqman.org kepada user@lqman.org sudah masuk ke dalam antrian untuk segera dikirimkan oleh postfix (SMTP server).
Lihatlah pada log file yang berada pada /var/log/mail.info :
root@bajoel:~# tail -f /var/log/mail/info | ccze
Pasti akan kita lihat bagin seperti dibawah ini :
Jul 24 21:48:28 myserver postfix/smtpd[9119]: connect from myserver[127.0.0.1]
Jul 24 21:48:48 myserver postfix/smtpd[9119]: F2C1B47BD: client=myserver[127.0.0.1]
Jul 24 21:48:52 myserver postfix/cleanup[9144]: F2C1B47BD: message-id=
Jul 24 21:48:52 myserver postfix/qmgr[9117]: F2C1B47BD: from=, size=313, nrcpt=1 (queue active)
Jul 24 21:48:52 myserver postfix/virtual[9148]: F2C1B47BD: to=, relay=virtual, delay=10, status=sent (delivered to maildir)
Jika anda melihat “status=sent (delivered to maildir)” maka email yang anda kirimkan sudah berhasil dikirimkan ke dalam Maildir user yang bersangkutan (user@lqman.org). Jalankan perintah find untuk melihat seluruh file dan direktori yang ada dibawah direktori “/home/mail”.
root@bajoel:~# find /home/mail
/home/mail/
/home/mail/lqman.org
/home/mail/lqman.org/user
/home/mail/lqman.org/user/cur
/home/mail/lqman.org/user/new
/home/mail/lqman.org/user/new/1170803794.V805I1c1fbM98807.bajoel
/home/mail/lqman.org/user/new/1170803833.V805I1c1feM87660.bajoel
/home/mail/lqman.org/user/tmp
Semuanya berjalan Lancar? Bagus.. Sebagai langkah terakhir, anda harus mencoba login pada email baru nada melalui tampilan web yg telah disediakan oleh squirrelmail. Pada percobaan ini, username yang bisa digunakan adalah “user@lqman.org” dengan password “user”

Step 9: Menambahkan User Baru pada Mail-Server
Pada step yang terakhir ini anda tinggal memasukkan / menambahkan pada database setiap username dan password user baru pada mailserver anda.
Untuk setiap virtual-domain baru, Tambahkan nama virtual-domain tsb pada tabel ‘domains’
Untuk setiap user baru, Tambahkan username (email address) dan password (plain text) pada tabel ‘users’
Untuk setiap forwarding, Tambahkan source dan destination mail address pada tabel ‘forwardings’, jika anda punya banyak destination, pisahkan dengan koma. Tabel ini digunakan untuk me-redirect setiap email pada system anda, termasuk juga anda bisa me-redirect local mail-address.
Contoh :
source destination Effect
test@my.domain philip@my.domain me-redirect emails untuk postmaster kepada philip.
@my.domain @another.domain Ini adalah re-direction thd seluruh domain. Setiap email yang dialamatkan kpd suatu user pada domain ‘my.domain’ akan di-forward kepada user yang sama pada domain ‘another.domain’.
Jadi mail kpd lqman@my.domain akan di-redirect kepada lqman@another.domain.
jesper@my.domain dilbert@my.domain,dilbert@gmail.com mem-forward email yg dialamatkan untuk jesper@my.domain kepada
dilbert@my.domain dan dilbert@gmail.com

Step 10: Interface WebMail dg squirrelmail
Untuk mempermudah user anda dalam menggunakan mailserver yg sdh anda buat, maka tampilan web merupakan interface yang paling mudah.
Oleh karena itu paket squirrelmail yang sudah kita install pada step pertama harus dikonfigurasi sesuai dg mailserver yg sdh kita buat.
Untuk menyesuaikan dg konfigurasi mailserver ini, cukup lakukan perintah squirrelmail-configure :
root@bajoel:~# squirrelmail-configure
lalu lakukan sesuai dg langkah-langkah yang sudah tersedia. Langkah yang paling penting disini adalah saat menentukan “Server Settings” saja, selain itu tidak ada yang terlalu penting.
Pada saat menentukan “Server Settings”, lakukan perubahan spt dibawah ini

Secure IMAP (TLS) : false
Server software : courier

Kemudian save opsi tersebut dg cara menekan tombol “s”, lalu keluar dari configurasi dg menekan tombol “q”.
Step 11: Menjadikan webmail kita sebagai VirtualHost baru
Buatlah file baru pada konfigurasi webserver anda (pada tutorial ini dipakai webserver apache2)
root@bajoel:~# touch /etc/apache2/sites/available/squirrelmail
Kemudian tambahkan baris-baris dibawah ini :
NameVirtualHost 10.122.1.22:80
ServerAdmin admin@lqman.org
ServerName mail.lqman.org
DocumentRoot /usr/share/squirrelmail
Options FollowSymLinks
AllowOverride None
Options Indexes FollowSymLinks MultiViews
AllowOverride None
Order allow,deny
allow from all
Setelah itu, buatlah symbolic link ke direktori /etc/apache2/sites-enable/ dengan cara :
root@bajoel:~# ln -s /etc/apache2/sites-available/squirrelmail.conf /etc/apache/sites-enable/001squirrelmail.conf
Lalu cek konfigurasi apache2 dg syntax :
root@bajoel:~# apache2ctl configtest
dan jika muncul tulisan Syntax OK, maka restart-lah apache2 dg :
root@bajoel:~# apache2ctl restart

sumber
http://lqman.wordpress.com
http://lqman.wordpress.com/2007/01/25/email-server-with-postfix-and-courier/
http://anaktkj-2005.blogspot.com/2008/06/proxy-server-debian.html

DHCP SERVER debian 4

1. Install paket dhcp server

# apt-get install dhcp3-server

2. Konfigurasi dhcp server

# vim /etc/dhcp3/dhcp.conf

Konfigurasi utama DHCP Server terletak pada /etc/dhcp3/dhcpd.conf.

optiondomain-name-servers 192.168.254.1;
subnet 192.168.254.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.254.1 192.168.254.10;
optiondomain-name-servers 192.168.254.1;
option domain-name “testing.com”;
option routers 192.168.254.1;
option broadcast-address 192.168.252.15;
default-lease-time 3600;
max-lease-time 7200;
}

keterangan: pada baris pertama merupakan subnet dan netmask, baris kedua adalah range ip address yang kita alokasikan untuk klien, baris ketiga pemberian DNS untuk klien, baris keempat adalah name buat klien, baris kelima merupakan router ip, baris keenam merupakan broadcast ip, baris ketujuh adalah default waktu sewa dan baris terakhir maksimum waktu sewa.

3. Konfigurasi interface default

# vim /etc/default/dhcp

Konfigurasi utama DHCP server terletak pada /etc/default/dhcp

INTERFACE=”eth0″

(interface yang digubakan sbg dhcp server)

Restart DHCP server

$ /etc/init.d/dhcp3-server restart jika tidak ada error, berarti konfigurasi telah benar

4. Konfigurasi interface card

auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.254.1
netmask 255.255.255.0
network 192.168.254.0
broadcast 192.168.254.255
gateway 192.168.254.1

5. Client konfigurasi

Rubah file berikut

# nano /etc/network/interfaces

masukkan konfigurasi:

auto eth0
iface eth0 inet dhcp

kemudian restart service networking

# /etc/init.d/networking restart

kemudian cek IP address

# ifconfig

semoga tulisan ini bermanfaat……

sumber
http://maromfive.wordpress.com/dhcp-server-debian-4/

MAIL SERVER debian 4

sebelum install postfix, hapus dulu paket exim4 yang merupakan default bawaan dari installan debian 4

sebelum instalasi pastikan komputer sudah terinstall apache2, php4:

1. Install postfix

# apt-get install postfix

#setelah instalasi postfix pilih local only / internet site

# /etc/init.d/postfix [start|stop|restart]

2. Install courier-imap

# apt-get install courier-imap

# /etc/init.d/courier-imap [start|stop|restart]

3. Install courier-pop

# apt-get install courier-pop

# /etc/init.d/courier-pop [start|stop|restart]

# /etc/init.d/courier-authdaemon [start|stop|restart]

4. konfigurasi file main.cf

# vim /etc/postfix/main.cf

contoh konfigurasi :

——————

myhostname = mail.marom.com

mydomain = marom.com

alias_maps = hash:/etc/aliases

alias_database = hash:/etc/aliases

myorigin = /etc/mailname

mydestination = $mydomain, localhost

home_mailbox = Maildir/

relayhost =

mynetworks = 127.0.0.0/8 192.168.56.0/24

#mailbox_command = procmail -a "$EXTENSION"

mailbox_size_limit = 0

recipient_delimiter = +

inet_interfaces = all

————

5. Install squirrelmail

# apt-get install squirrelmail

6. Konfigurasi /usr/sbin/squirrelmail-configure

# /usr/sbin/squirrelmail-configure

buat konfigurasinya…

server software : courier

7. Buat Virtualhost squirrelmail

# vim /etc/apache2/sites-available/default

arahkan root direktori ke direktori squirrelmail (default:/usr/share/squirrelmail)

8. Membuat folder Maildir di user tertentu

# cd /home/marom

# maildirmake Maildir

# chown marom.marom Maildir/ -Rf

9. Membuat folder Maildir otomatis ketika create user

# cd /etc/skel

# maildirmake Maildir

10. Testing squirrelmail

Buka browser :

http://mail.marom.com

11. test POSTFIX(SMTP)

#telnet mail.marom.com 25

12. test POP3

#telnet mail.marom.com 110

sumber

http://maromfive.wordpress.com/mail-server-debian-4/


20 Februari 2009

Setting DHCP Server pada Redhat 9

18.2. Configuring a DHCP Server

You can configure a DHCP server using the configuration file /etc/dhcpd.conf.

DHCP also uses the file /var/lib/dhcp/dhcpd.leases to store the client lease database. Refer to Section 18.2.2 Lease Database for more information.

18.2.1. Configuration File

The first step in configuring a DHCP server is to create the configuration file that stores the network information for the clients. Global options can be declared for all clients, or options can be declared for each client system.

The configuration file can contain any extra tabs or blank lines for easier formatting. The keywords are case-insensitive, and lines beginning with a hash mark (#) are considered comments.

Two DNS update schemes are currently implemented — the ad-hoc DNS update mode and the interim DHCP-DNS interaction draft update mode. If and when these two are accepted as part of the IETF standards process, there will be a third mode — the standard DNS update method. The DHCP server must be configured to use one of the two current schemes. Version 3.0b2pl11 and previous version used the ad-hoc mode; however, it has been depreciated. If you want to keep the same behavior, add the following line to the top of the configuration file:

ddns-update-style ad-hoc;

To use the recommended mode, add the following line to the top of the configuration file:

ddns-update-style interim;

Read the dhcpd.conf man page for details about the different modes.

There are two types of statements in the configuration file:

  • Parameters — state how to perform a task, whether to perform a task, or what network configuration options to send to the client.

  • Declarations — describe the topology of the network, describe the clients, provide addresses for the clients, or apply a group of parameters to a group of declarations.

Some parameters must start with the option keyword and are referred to as options. Options configure DHCP options; whereas, parameters configure values that are not optional or control how the DHCP server behaves.

Parameters (including options) declared before a section enclosed in curly brackets ({ }) are considered global parameters. Global parameters apply to all the sections below it.

Important Important
 

If you change the configuration file, the changes will not take effect until you restart the DHCP daemon with the command service dhcpd restart.

In Example 18-1, the routers, subnet-mask, domain-name, domain-name-servers, and time-offset options are used for any host statements declared below it.

As shown in Example 18-1, you can declare a subnet. You must include a subnet declaration for every subnet in your network. If you do not, the DHCP server will fail to start.

In this example, there are global options for every DHCP client in the subnet and a range declared. Clients are assigned an IP address within the range.

subnet 192.168.1.0 netmask 255.255.255.0 {
option routers 192.168.1.254;
option subnet-mask 255.255.255.0;

option domain-name "example.com";
option domain-name-servers 192.168.1.1;

option time-offset -18000; # Eastern Standard Time

range 192.168.1.10 192.168.1.100;
}

Example 18-1. Subnet Declaration

All subnets that share the same physical network should be declared within a shared-network declaration as shown in Example 18-2. Parameters within the shared-network but outside the enclosed subnet declarations are considered global parameters. The name of the shared-network should be a descriptive title for the network such as test-lab to describe all the subnets in a test lab environment.

shared-network name {
option domain-name "test.redhat.com";
option domain-name-servers ns1.redhat.com, ns2.redhat.com;
option routers 192.168.1.254;
more parameters for EXAMPLE shared-network
subnet 192.168.1.0 netmask 255.255.255.0 {
parameters for subnet
range 192.168.1.1 192.168.1.31;
}
subnet 192.168.1.32 netmask 255.255.255.0 {
parameters for subnet
range 192.168.1.33 192.168.1.63;
}
}

Example 18-2. Shared-network Declaration

As demonstrated in Example 18-3, the group declaration can be used to apply global parameters to a group of declarations. You can group shared networks, subnets, hosts, or other groups.

group {
option routers 192.168.1.254;
option subnet-mask 255.255.255.0;

option domain-name "example.com";
option domain-name-servers 192.168.1.1;

option time-offset -18000; # Eastern Standard Time

host apex {
option host-name "apex.example.com";
hardware ethernet 00:A0:78:8E:9E:AA;
fixed-address 192.168.1.4;
}

host raleigh {
option host-name "raleigh.example.com";
hardware ethernet 00:A1:DD:74:C3:F2;
fixed-address 192.168.1.6;
}
}

Example 18-3. Group Declaration

To configure a DHCP server that leases a dynamic IP address to a system within a subnet, modify Example 18-4 with your values. It declares a default lease time, maximum lease time, and network configuration values for the clients. This example assigns IP addresses in the range 192.168.1.10 and 192.168.1.100 to client systems.

default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option broadcast-address 192.168.1.255;
option routers 192.168.1.254;
option domain-name-servers 192.168.1.1, 192.168.1.2;
option domain-name "example.com";

subnet 192.168.1.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.1.10 192.168.1.100;
}

Example 18-4. Range Parameter

To assign an IP address to a client based on the MAC address of the network interface card, use the hardware ethernet parameter within a host declaration. As demonstrated in Example 18-5, the host apex declaration specifies that the network interface card with the MAC address 00:A0:78:8E:9E:AA always receives the IP address 192.168.1.4.

Notice that you can also use the optional parameter host-name to assign a host name to the client.

host apex {
option host-name "apex.example.com";
hardware ethernet 00:A0:78:8E:9E:AA;
fixed-address 192.168.1.4;
}

Example 18-5. Static IP Address using DHCP

TipTip
 

You can use the sample configuration file in Red Hat Linux 9 as a starting point and then add your own custom configuration options to it. Copy it to its proper location with the command

cp /usr/share/doc/dhcp-<version-number>/dhcpd.conf.sample /etc/dhcpd.conf
(where <version-number> is the DHCP version you are using).

For a complete list of option statements and what they do, refer to the dhcp-options man page.

18.2.2. Lease Database

On the DHCP server, the file /var/lib/dhcp/dhcpd.leases stores the DHCP client lease database. This file should not be modified by hand. DHCP lease information for each recently assigned IP address is automatically stored in the lease database. The information includes the length of the lease, to whom the IP address has been assigned, the start and end dates for the lease, and the MAC address of the network interface card that was used to retrieve the lease.

All times in the lease database are in Greenwich Mean Time (GMT), not local time.

The lease database is recreated from time to time so that it is not too large. First, all known leases are saved in a temporary lease database. The dhcpd.leases file is renamed dhcpd.leases~, and the temporary lease database is written to dhcpd.leases.

The DHCP daemon could be killed or the system could crash after the lease database has been renamed to the backup file but before the new file has been written. If this happens, there is no dhcpd.leases file that is required to start the service. Do not create a new lease file if this occurs. If you do, all the old leases will be lost and cause many problems. The correct solution is to rename the dhcpd.leases~ backup file to dhcpd.leases and then start the daemon.

18.2.3. Starting and Stopping the Server

ImportantImportant
 

Before you start the DHCP server for the first time, it will fail unless there is an existing dhcpd.leases file. Use the command touch /var/lib/dhcp/dhcpd.leases to create the file if it does not exist.

To start the DHCP service, use the command /sbin/service dhcpd start. To stop the DHCP server, use the command /sbin/service dhcpd stop. If you want the daemon to start automatically at boot time, see Chapter 14 Controlling Access to Services for information on how to manage services.

If you have more than one network interface attached to the system, but you only want the DHCP server to start on one of the interface, you can configure the DHCP server to start only on that device. In /etc/sysconfig/dhcpd, add the name of the interface to the list of DHCPDARGS:

# Command line options here
DHCPDARGS=eth0

This is useful if you have a firewall machine with two network cards. One network card can be configured as a DHCP client to retrieve an IP address to the Internet. The other network card can be used as a DHCP server for the internal network behind the firewall. Specifying only the network card connected to the internal network makes the system more secure because users can not connect to the daemon via the Internet.

Other command line options that can be specified in /etc/sysconfig/dhcpd include:

  • -p <portnum> — Specify the udp port number on which dhcpd should listen. The default is port 67. The DHCP server transmits responses to the DHCP clients at a port number one greater than the udp port specified. For example, if you accept the default of port 67, the server listens on port 67 for requests and responses to the client on port 68. If you specify a port here and use the DHCP relay agent, you must specify the same port on which the DHCP relay agent should listen. See Section 18.2.4 DHCP Relay Agent for details.

  • -f — Run the daemon as a foreground process. This is mostly used for debugging.

  • -d — Log the DHCP server daemon to the standard error descriptor. This is mostly used for debugging. If this is not specified, the log is written to /var/log/messages.

  • -cf filename — Specify the location of the configuration file. The default location is /etc/dhcpd.conf.

  • -lf filename — Specify the location of the lease database file. If a lease database file already exists, it is very important that the same file be used every time the DHCP server is started. It is strongly recommended that this option only be used for debugging purposes on non-production machines. The default location is /var/lib/dhcp/dhcpd.leases.

  • -q — Do not print the entire copyright message when starting the daemon.

18.2.4. DHCP Relay Agent

The DHCP Relay Agent (dhcrelay) allows you to relay DHCP and BOOTP requests from a subnet with no DHCP server on it to one or more DHCP servers on other subnets.

When a DHCP client requests information, the DHCP Relay Agent forwards the request to the list of DHCP servers specified when the DHCP Relay Agent is started. When a DHCP server returns a reply, the reply is broadcast or unicast on the network that sent the original request.

The DHCP Relay Agent listens for DHCP requests on all interfaces unless the interfaces are specified in /etc/sysconfig/dhcrelay with the INTERFACES directive.

To start the DHCP Relay Agent, use the command service dhcrelay start.

Setting DNS Server dengan BIND di Redhat 9

BIND Configuration

This chapter assumes that you have a basic understanding of BIND and DNS; it does not attempt to explain the concepts of BIND and DNS. This chapter does explain how to use the Bind Configuration Tool (redhat-config-bind) to configure basic BIND server zones. The Bind Configuration Tool creates the /etc/named.conf configuration file and the zone configuration files in the /var/named directory each time you apply your changes.

Important Important
 

Do not edit the /etc/named.conf configuration file. Bind Configuration Tool generates this file after you apply your changes. If you want to configure settings that are not configurable using Bind Configuration Tool, add them to /etc/named.custom.

The Bind Configuration Tool requires the X Window System and root access. To start the Bind Configuration Tool, go to the Main Menu Button (on the Panel) => System Settings => Server Settings => Domain Name Service or type the command redhat-config-bind at a shell prompt (for example, in an XTerm or GNOME-terminal).

Figure 21-1. Bind Configuration Tool

The Bind Configuration Tool configures the default zone directory to be /var/named. All zone files specified are relative to this directory. The Bind Configuration Tool also includes basic syntax checking when values are entered. For example, if a valid entry is an IP address, you are only allowed to type numbers and periods (.) into the text area.

The Bind Configuration Tool allows you to add a forward master zone, a reverse master zone, and a slave zone. After adding the zones, you can edit or delete them from the main window as shown in Figure 21-1.

After adding, editing, or deleting a zone, you must choose click the Save button or select File => Save to write the /etc/named.conf configuration file and all the individual zone files in the /var/named directory. Saving changes also causes the named service to reload the configuration files. Selecting File => Quit saves the changes before quitting the application.

21.1. Adding a Forward Master Zone

To add a forward master zone (also known as a primary master), click the New button, select Forward Master Zone, and enter the domain name for the master zone in the Domain name text area.

A new window as shown in Figure 21-2 will appear with the following options:

  • Name — Domain name that was just entered in the previous window.

  • File Name — File name of the DNS database file, relative to /var/named. It is preset to the domain name with .zone appended to it.

  • Contact — Email address of the main contact for the master zone.

  • Primary Nameserver (SOA) — State of authority (SOA) record. This specifies the nameserver that is the best resource of information for this domain.

  • Serial Number — The serial number of the DNS database file. This number must be incremented each time the file is changed, so that the slave nameservers for the zone will retrieve the latest data. The Bind Configuration Tool increments this number each time the configuration changes. It can also be incremented manually by clicking the Set button next to the Serial Number value.

  • Time Settings — The Refresh, Retry, Expire, and Minimum TTL (Time to Live) values that are stored in the DNS database file. All values are in seconds.

  • Records — Add, edit, and delete record resources of type Host, Alias, and Name server.

Figure 21-2. Adding a Forward Master Zone

A Primary Nameserver (SOA) must be specified, and at least one nameserver record must be specified by clicking the Add button in the Records section.

After configuring the Forward Master Zone, click OK to return to the main window as shown in Figure 21-1. From the pulldown menu, click Save to write the /etc/named.conf configuration file, write all the individual zone files in the /var/named directory, and have the daemon reload the configuration files.

The configuration creates an entry similar to the following in /etc/named.conf:

zone  "forward.example.com" { 
type master;
file "forward.example.com.zone";
};

It also creates the file /var/named/forward.example.com.zone with the following information:

$TTL 86400
@ IN SOA ns.example.com. root.localhost (
2 ; serial
28800 ; refresh
7200 ; retry
604800 ; expire
86400 ; ttl
)


IN NS 192.168.1.1.


21.2. Adding a Reverse Master Zone

To add a reverse master zone, click the New button and select Reverse Master Zone. Enter the first three octets of the IP address range that you want to configure. For example, if you are configuring the IP address range 192.168.10.0/255.255.255.0, enter 192.168.10 in the IP Address (first 3 Octets) text area.

A new window will appear, as shown in Figure 21-3, with the following options:

  1. IP Address — The first three octets that you just entered in the previous window.

  2. Reverse IP Address — Non-editable. Pre-populated based on the IP Address entered.

  3. Contact —Email address of the main contact for the master zone.

  4. File Name — File name of DNS database file in the /var/named directory.

  5. Primary Nameserver (SOA) — State of authority (SOA) record. This specifies the nameserver that is the best resource of information for this domain.

  6. Serial Number — The serial number of the DNS database file. This number must be incremented each time the file is changed, so that the slave nameservers for the zone will retrieve the latest data. The Bind Configuration Tool increments this number each time the configuration changes. It can also be incremented manually by clicking the Set button next to the Serial Number value.

  7. Time Settings — The Refresh, Retry, Expire, and Minimum TTL (Time to Live) values that are stored in the DNS database file.

  8. Nameservers — Add, edit, and delete name servers for the reverse master zone. At least one nameserver is required.

  9. Reverse Address Table — List of IP addresses within the reverse master zone and their hostnames. For example, for the reverse master zone 192.168.10, you can add 192.168.10.1 in the Reverse Address Table with the hostname one.example.com. The hostname must end with a period (.) to specify that it is a full hostname.

Figure 21-3. Adding a Reverse Master Zone

A Primary Nameserver (SOA) must be specified, and at least one nameserver record must be specified by clicking the Add button in the Nameservers section.

After configuring the Reverse Master Zone, click OK to return to the main window as shown in Figure 21-1. From the pulldown menu, click Save to write the /etc/named.conf configuration file, write all the individual zone files in the /var/named directory, and have the daemon reload the configuration files.

The configuration creates an entry similar to the following in /etc/named.conf:

zone  "10.168.192.in-addr.arpa" {
type master;
file "10.168.192.in-addr.arpa.zone";
};

It also creates the file /var/named/10.168.192.in-addr.arpa.zone with the following information:

$TTL 86400
@ IN SOA ns.example.com. root.localhost (
2 ; serial
28800 ; refresh
7200 ; retry
604800 ; expire
86400 ; ttk
)


@ IN NS ns2.example.com.

1 IN PTR one.example.com.
2 IN PTR two.example.com.

17 Februari 2009

Manajemen Paket menggunakan RedHat Packet Manager

Dudy Rudianto

dudy@batam.com

Salah satu yang menjadi pertanyaan seorang pemula Linux adalah bagaimana saya menginstal program baru ke dalam komputer Linux saya?, bagaimana saya menghapus program bahkan bagaimana saya dapat mengupgrade program saya dengan versi yang lebih baru. Tips berikut akan menjelaskan bagaimana menggunakan RedHat Packet Manager, sebuah program manajemen paket yang dibuat oleh RedHat. Pada awalnya, penulis beranggapan bahwa menggunakan rpm tidak semudah menggunakan Add/Remove Program yang ada di windows. Belakangan anggapan tersebut ternyata salah, mengingat kelengkapan tool yang disediakan oleh rpm benar-benar menunjukkan bagaimana seharus perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan manajemen paket. Pada tingkat lanjutan, seseorang dapat melakukan kustomisasi lebih mendalam dengan membuat sendiri distribusi paket menggunakan rpm.

Tentang rpm

RedHat Packet Manager, selanjutnya disebut dengan rpm, adalah alat bantu untuk melakukan berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan pengelolaan sebuah paket dalam sistem Linux. rpm sendiri sekarang menjadi sebuah standar secara de facto yang digunakan oleh berbagai pengembang perangkat lunak untuk mendistribusikan sebuah perangkat lunak. rpm banyak digunakan oleh berbagai distribusi besat saat ini, tak kurang seperti RedHat, Mandrake, SuSE, dan OpenLinux. Bahkan slackware yang terkenal karena nuansa UNIX-like-nya, dengan sedikit penyesuaian dapat menggunakan rpm untuk manajemen paket.

Sebenarnya apa yang membedakan jika sebuah paket tidak menggunakan paket manajemen seperti rpm. Jawabannya cukup mudah, sebuah program pada dasarnya terdiri atas beberapa file agar dapat dijalankan. File-file tersebut harus diletakkan secara terpisah. Misalkan anda menginstal sebuah program pada direktori /usr/local/program, file binari dari program tersebut harus diletakkan pada /sbin, manual page dari program harus diletakkan secara terpisah, termasuk jika ada fungsi-fungsi pustaka yang haris dikaitkan dengan fungsi pustaka lainnya. Kalau memasang sebuah progam demikian rumitnya, bagaimana jika harus menghapus program tersebut. Tentu dari sini dapat disimpulkan, rpm digunakan untuk memudahkan pekerjaan administrasi paket, termasuk menginstal, menghapus, upgrade, atau menampilkan informasi tentang paket.

Pada dasarnya rpm merupakan program instalasi untuk paket-paket linux yang sudah dalam format rpm (*.rpm). Akan tetapi fungsi dari rpm tidak hanya itu, anda mungkin pernah mengetahui bahwa setiap paket software memiliki mekanisme sendiri bagaimana sebuah paket akan terpasang dan dijalankan di dalam sistem. rpm menyediakan mekanisme instalasi yang seragam untuk semua paket yang memiliki format rpm. rpm juga menyediakan semua informasi tentang paket yang terinstall dengan menggunakan sebuah database paket.

Beberapa hal yang harus anda pastikan sebelum menginstal sebuah paket adalah sebagai berikut :

1.Pastikan isi dari paket yang akan anda install termasuk berapa jumlah space yang dibutuhkan, dan di mana akan diletakkan.

2.Pastikan apakah anda memilik library yang dibutuhkan atau file lainnya agar software yang anda install bisa dijalankan.

3.Pastikan bahwa paket yang anda instal tidak akan konflik dengan paket yang lain atau dengan paket yang sama akan tetapi versi yang berbeda atau versi yang lebih lama.

4.Pastikan bahwa paket yang akan anda install berasal dari sumber yang bisa dipercaya, paket tersebut tidak akan merusak dan sebagainya.

Apakah Paket itu ?

Paket adalah file khusus yang terdiri dari file dan direktori yang merupakan bagian dari sebuah software atau komponen sistem. Dalam linux dikenal dua jenis paket, yaitu binary dan source. Paket binary terdiri atas komponen software yang siap untuk diinstall sesuai dengan arsitektur komputer yang digunakan dan juga siap untuk digunakan. Source paket merupakan source code yang digunakan dengan cara membuat sendiri binari paket yang dibutuhkan, paket jenis ini menyediakan semua yang anda butuhkan untuk dapat di modifikasi dan anda harus mengkompile source code tersebut.

Sebuah paket binary memiliki aturan penamaan seperti berikut ini :

ed-0.2-5.i386.rpm

Bagian pertama dari nama diatas menunjukkan nama paket, setelah itu adalah nomor versi dalam hal ini 0.2. Nomor versi ini menunjukkan versi dari paket tersebut, kemudian diikuti dengan nomor rilis dalam hal ini adalah 5. Apa perbedaan yang mendasar antara nomor rilis dan nomor versi?, nomor vesi menunjukkan status dari pada software itu sendiri, di mana hal ini menunjukkan status paket yang dibuat oleh penciptanya, bukan mengacu kepada siapa yang membuatnya menjadi satu paket. Sedangkan nomor rilis menunjukkan siapa yang membuatnya menjadi satu paket, jadi sebuah paket bisa saja memiliki nomor rilis yang berlainan bergantung kepada siapa yang membuatnya menjadi sebuah paket, akan tetapi bisa saja nomor versinya tetap sama.

Setelah nomor rilis, string berikutnya menunjukkan arsitektur mesin dari paket. Kebanyakan paket berisikan software yang sudah dikompilasi dengan menggunakan prosesor tertentu atau mesin tertentu. Sebagai contoh, jika sebuah program dikompile pada mesin intel x86 dan kompatibelnya biasanya paket tersebut dimasukkan kedalam string i386. Atau ia memiliki spesifikasi mesin tersendiri, misalnya Pentium atau Pentium II, maka ia akan dimasukkan kedalam string i586 atau i686.

Dalam beberapa kasus, isi dari suatu paket tidak bergantung sama sekali dengan arsitektur mesin yang digunakan. Untuk jenis paket tersebut biasanya dimasukkan kedalam paket dengan string noarch. Selengkapanya bisa dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Arsitektur Mesin Pada sebuah Paket

String

Prosesor

noarch

Semua jenis prosesor

i386, i586, i686

Prosesor keluarga pentium dan kompatibel

alpha

DEC Alpha

sparc

Sun Sparc

mips

MIPS

ppc

PowerPC

m68k

Keluarga motorola 68000

Sebuah paket binary, biasanya berisikan hal-hal sebagai berikut :

1.Nama dan penjelasan dari software.

2.Informasi tentang versi software.

3.Informasi tentang penyedia paket rpm tersebut.

4.URL dari penyedia paket tersebut.

5.Informasi tentang lisensi.

6.Klasifikasi produk tersebut.

7.Informasi untuk sistem operasi dan mesin yang digunakan.

8.Informasi file dan direktori untuk setiap paket.

Memulai Redhat Package Manager

rpm memiliki enam mode operasi, yaitu install, uninstal, update, query, verifikasi, dan building.

Format dari perintah rpm seperti berikut ini :

rpm [option] nama paket

Option adalah argumen yang diberikan pada perintah rpm untuk memberikan efek perintah tertentu, sedangkan nama paket adalah paket yang akan digunakan. Tabel berikut ini memperlihatkan opsi pada perintah rpm.

opsi

Sub-opsi

Arti dari opsi

-q

Query

-I

Menampilkan informasi detail dari paket.

-l

Menampilkan semua file

-d

Hanya menampilkan file-file dokumentasi

-c

Hanya menampilkan file-file konfigurasi

-f

Mencari paket yang mana yang dimiliki oleh sebuah file

-p

Operasi didalam sebuah file paket

--script

Menampilkan script install dan uninstall

-i

Install

-e

Uninstall (menghapus paket)

-U

Upgrade atau menginstall paket yang belum ada pada sistem

-F

Freshen (Ugrade paket jika sebelumnya sudah ada paket yang terinstall)

-V

Verifikasi paket yang terinstall

-b

Membangun sebuah paket

Anda dapat menemukan file-file paket pada cdrom anda di direktori /mnt/cdrom/Redhat/rpmS/. Untuk mengetahui informasi yang ada pada paket, anda dapat menggunakan rpm dengan tambahan option -qpi, seperti berikut ini :

$ rpm -qpi ed-0.2-17.i386.rpm

Name : ed Relocations: (not relocateable)

Version : 0.2 Vendor: Red Hat, Inc.

Release : 17 Build Date: Wed 12 Jul 2000 07:00:24 PM JAVT

Install date: (not installed) Build Host: porky.devel.redhat.com

Group : Applications/Text Source rpm: ed-0.2-17.src.rpm

Size : 99563 License: GPL

Packager : Red Hat, Inc. <http://bugzilla.redhat.com/bugzilla>

Summary : The GNU line editor.

Description :

Ed is a line-oriented text editor, used to create, display, and modify

text files (both interactively and via shell scripts). For most

purposes, ed has been replaced in normal usage by full-screen editors

(emacs and vi, for example).

Ed was the original UNIX editor, and may be used by some programs. In

general, however, you probably don't need to install it and you probably

won't use it.

$

Keluaran diatas, menunjukkan informasi mengenai paket ed, termasuk informasi mengenai kegunaan software tersebut. Untuk dapat melihat listing dari program diatas, ketikkan perintah seperti berikut :

# rpm -qpl ed-0.2-17.i386.rpm

/bin/ed

/bin/red

/usr/share/doc/ed-0.2

/usr/share/doc/ed-0.2/NEWS

/usr/share/doc/ed-0.2/POSIX

/usr/share/doc/ed-0.2/README

/usr/share/doc/ed-0.2/THANKS

/usr/share/info/ed.info.gz

/usr/share/man/man1/ed.1.gz

/usr/share/man/man1/red.1.gz

Install Paket

Untuk menginstall sebuah paket, anda dapat menggunakan rpm dengan menambahkan option -i dan nama paket yang akan anda install. Contoh penggunaan perintah tersebut seperti dibawah ini :

# rpm -i ed-0.2-17.i386.rpm

Jika anda menghendaki untuk dapat melihat proses instalasi, tambahkan option -vh seperti berikut ini :

# rpm -ivh ed-0.2-17.i386.rpm

Jika paket yang akan anda install ternyata sudah terpasang pada sistem anda, maka akan terlihat seperti berikut :

# rpm -ivh ed-1.0-1.i386.rpm

ed package ed-1.0-1 is already installed

error: ed-1.0-1.i386.rpm cannot be installed

Uninstall

Uninstall adalah proses untuk menghapus sebuah paket dari sistem. Untuk melakukan uninstall, anda tidak harus mengetikkan nama paket selengkap nama paket pada waktu melakukan instalasi.

Contoh penggunaan perintah diatas adalah :

# rpm -e ed

Biasanya proses uninstall terdapat masalah yang sering dikenal dengan isitilah error dependecies, ini berarti paket tersebut tidak dapat di hilangkan dari sistem dikarenakan memiliki ketergantungan dengan paket lainnya. Ketergantungan ini dikarenakan dalam Linux, tiap paket atau program sama-sama saling berbagi file yang dibutuhkan satu sama lain.

Jika ini terjadi maka sistem akan menampilkan pesan seperti berikut ini :

# rpm -e ed

error: removing these packages would break dependencies:

ed is needed by tetex-1.0.7-11mdk

Anda dapat tetap dapat meng-unistall paket tersebut dengan cara mengabaikan problem ketergantungan antar paket dengan menambahkan option -nodeps, akan tetapi anda sama sekali tidak disarankan untuk menggunakannya karena akan menyebabkan sistem menjadi tidak stabil

Upgrade Paket

Upgrade paket diperlukan untuk menaikkan versi dari paket sebelumnya. Hal ini memberikan beberapa keuntungan seperti adanya perbaikan bug, penambahan fitur baru, dan juga unjuk kerja yang mungkin lebih baik. Untuk melakukan upgrade anda tinggal menambahkan option -U seperti berikut ini :

# rpm -Uvh ed-1.0-1.i386.rpm

Pada saat proses upgrade dilakukan, rpm akan menyimpan file anda yang lama , misalnya /etc/ed.conf menjadi /etc/ed.conf.rpmsave. Hal ini dilakukan untuk menjaga kalau-kalau versi terbaru yang baru saja anda install ternyata tidak kompatibel dengan versi yang lama.

Query

Digunakan untuk menampilkan database paket yang telah terinstall kedalam sistem. Untuk dapat melakukan query databasse paket, anda dapat menggunakan option -q. Perintah ini akan menampilkan nama paket, versi dan nomor rilis dari paket yang terinstall. Contoh penggunaannya adalah :

# rpm -q smpeg

smpeg-0.4.0-10mdk

Record pada rpm

rpm menyediakan sebuah record untuk setiap paket yang terintall. Record ini biasanya berada pada database rpm. Record ini sewaktu-waktu dapat di rebuild kembali untuk memastikan bahwa rpm memuat informasi terbaru pada paket-paket yang terinstal ke dalam sistem. Untuk memperbaharui record, gunakan perintah rpm dengan opsi -rebuilddb seperti pada contoh berikut.

#rpm -rebuilddb

Menggunakan Gnome rpm

Gnome rpm merupakan salah satu utilitas untuk manajemen paket yang berjalan pada modus grafis. Meskipun Gnome rpm merupakan paket bawaan dari Gnome, akan tetapi dapat dijalankan pada Window Manager lainnya seperti KDE, iceWM, dan lainnya.

Anda dapat menggunakan Gnome-rpm dengan memanggil pada konsol dengan mengetikkan gnorpm. Gambar berikut merupakan tampilan dari Gnome-rpm :

Menggunakan Gnome-rpm bagi sementara pengguna akan lebih memudahkan ketimbang harus memakai perintah berbasis. Dengan melihat panel-panel yang ada pada tampilan grafis Gnome-rpm, anda akan mengerti cara menggunakan gnome-rpm, seperti menginstall, upgrade, uninstall dan lain sebagainya. Pada gambar bisa dilihat adanya icon verivy yang digunakan untuk memastikan bahwa sebuah paket tidak rusak atau dalam keadan korup.

Menginstal Paket menggunakan gnorpm

Untuk menginstal paket dengan gnorpm, pilih icon install. Setelah itu akan muncul window baru yang berisikan berbagai tool yang digunakan untuk melakukan proses instalasi paket.

Anda bisa memilih paket program apa saja yang akan di install, dengan menekan tombol add. Pada bagian bawah dari window, terdapat beberapa icon yang dapat digunakan untuk melakukan query, upgrade, dan checksign. Query digunakan untuk melihat informasi tentang paket, termasuk deskripsi paket, lokasi tempat meletakkan paket dan sebagainya.

Untuk menghapus sebuah paket, anda tinggal memilih paket apa yang akan dihapus dan tekan icon Uninstall.

Query pada Paket

Untuk melakukan Query pada paket, pilih salah satu paket, kemudian tekan tombol query. Setelah tombol query ditekan, pada window terlihat beberapa informasi yang berhubungan dengan paket. Diantaranya adalah informasi tentang paket, termasuk deskripsi paket, pembuat, vendor yang mendistribusikan dan sebagainya. Pada bagian bawah terlihat informasi direktori untuk meletakkan file-file yang berhubungan dengan paket terinstal.

Menggunakan webfind

Salah satu fitur yang menarik dari gnorpm adalah adanya fasilitas yang disebut dengan webfind. Fasilitas ini memungkinkan seseorang yang terhubung langsung ke internet dapat langsung mencari file-fle dengan ekstensi rpm serta melakukan query terhadap paket. Fasilitas ini juga dapat digunakan untuk mendowload paket yang dibutuhkan. Untuk mengaktifkan fasilitas ini, tekan pada icon webfind.

Selain terdapat fasilitas untuk melakukan download, rpmfind juga memiliki fasilitas untuk melakukan instalasi langsung via jaringan internet. Untuk melakukan instalasi, setelah menemukan paket dengan menggunakan rpmfind, tekan tombol install. Dalam hal ini kecepatan instalasi sangat bergantung pada kecepatan koneksi yang anda miliki.


Entri Populer